Rabu, 24 Juni 2015

TRADISI MUJA YANG ADA DIDUSUN BARU MURMAS



TRADISI MUJA YANG ADA DIDUSUN BARU MURMAS

Pulau Lombok selain terkenal dengan wisata yang indah dan menawan, masih banyak hal lain yang belum diketahui mengenai pulau yang satu ini, khususnya mengenai tradisi umat Buddha di Lombok Utara. Tradisi tersebut dikenal dengan nama ‘Muja’. Tradisi ini diadakan dua kali dalam setahun yang terdiri dari “nunas kaya”  dan “mulek kaya”
Nunas kaya berasal dari dua kata yaitu ‘nunas’ dan ‘kaya’. Nunas( nunas mel-bao) berarti mengharapkan, berdoa, memohon. Sedangkan kaya berarti rezeki, keberuntungan, Jadi, nunas kaya berarti memohon supaya diberikan suatu kesehatan ,kedamaian ,kebahagiaan dan  keberuntungan. Tradisi ini biasanya dilakukan ketika padi mulai  berbiji Inti atau makna yang terkandung dalam upacara nunas kaya ini adalah memberikan persembahan kepada leluhur dengan harapan supaya padi di sawah berisi padat dan banyak supaya masyarakat dapat hidup sejahtera .
Mulek kaya berasal dari dua kata yaitu ‘mulek’ dan ‘kaya’. Mulek berarti mengembalikan/ungkapan syukur. Mulek kaya adalah upacara pemberian persembahan kepada leluhur sebagai ucapan terimakasih atas perolehan panen yang berhasil, sehingga apapun yang diperoleh dari hasil panen dipersembahkan kepada leluhur .
Upacara Muja dipimpin oleh belian (orang yang memberikan persembahan) dan  pemangku (pemimpin upacara persembahan) dan tokoh pemangku ini terdiri dari tiga tokoh dan masing masing mempunyai nama dan  tugas masing masing dan nama dari masing-masing pemangku ini yaitu:
1.      Mangku penghulu ,dimana mangku penghulu ( jari lek julu) artinya mangku pengulu ini brtugas menjadi yang terdepan dan menghendel jalannya upacara muja tersebut
2.      Mangku pesalin , dimana mangku pesalin  ,kata mangku  berasal dari bahasa indonesia dan lebih seknipikan dengan kata pemangku  jadi secara epistemology kata  pemangku artinya orang yang memangku,mengelola sedangkan pesalin   yang berasal dari bahasa sasak artinya mengganti ,jadi secara epistemologinya mangku pesalin adalah orang yang memangku atau mengelola dibagian persalinan yang berkenaan dengan tata hias leluhur
3.      Mangku tunang tekang ,kata tunang tekang berasal dari bahasa sasak ,kata tunang artinya menurunkan , sedangkan tekang artinya menaikan jadi mangku tunang tekang adalah orang yang memangku dan mengelola dibagian sesajen yang diberikan kepada leluhur .
Dari ketiga pemangku tersebut jika memang dari salah satu dari mereka yang setidaknya tidak mampu lagi menjalankan tugasnya ( sudah tua ) maka masyarakat pepujan orong pak penasan, kalipucak baru satan ,ini mengadakan sangkep ( musyawarah) untuk memilih pemangku baru ,dan dalam pemilihan mangku ini dipilih berdasarkan garis keturunan leluhur yang sekiranya memiliki hubungan kekelurgaan dari mangku yang lama.

  . Upacara persembahan selalu dimulai  dengan doa mulai hitungan satu sampai tujuh. Kemudian menyebutkan Betara Guru, Betara Sakti, Betara Jeneng, Idodari Sakti, Idodari Jeneng.  Bunyi doanya adalah sebagai berikut:
Sak dua telu empat lima enem pituq, tabek kula Sang Hyang Sri, aturang kula tibaq Sang Hyang Pepujan, tibaq Sang Hyang Tetungguran, tibaq Sang Hyang Kembulan da epeng kula. Aturang kula tibaq Betara Guru, Betara Sakti, Betara Jeneng, Idodari Sakti, Idodari Jeneng;  jeriji sepulu, lekoq goro buaq ngelotok, da epeng kula. Buat pelih sala qatus ura arep ragan pemban kula nunas ampura, kula nunas jeneng, kula nunas serminang, kula nunas rahayu reseki berkat da epeng kula.
Artinya:
          “Satu dua tiga empat lima enam tujuh, hormat kepada Sang Hyang Sri, persembahkanlah persembahan hamba kepada Sang Hyang Pepujan (Yang Patut Untuk Dipuja), Sang Hyang Tetunguran (Yang Menjadi Pangkal Utama), Sang Hyang Kembulan (Modal Utama), dialah milik hamba. Persembahkanlah persembahan hamba kepada Betara Guru (Yang Menjadi Guru), Betara Sakti (Yang Memilki Kehebatan Dan Kekuatan), Betara Jeneng (Yang Melindungi), Idodari Sakti (Yang Memiliki Kehebatan dan Kekuatan), Idodari Jeneng (Yang Melindungi); jari sepuluh, sirih yang telah layu dan pinang yang telah kering, dialah milik  hamba. Bila ada kesalahan dalam upacara persembahan ini, hamba mohon maaf sebesar-besarnya, hamba  mohon perlindungan, hamba mohon dilihat, hamba mohon kemuliaan, hamba mohon rezeki yang ada berkahnya, dialah milik hamba.
Menurut umat Buddha di Lombok Utara , doa ini identik dengan Tisaraṇa dan hitungan satu sampai tujuh disingkronkan dengan Tujuh Faktor Penerangan Batin yaitu SatiDhammāvicayo, viriya, pīti, passadhi, samādhi dan Upekkha.

Ritual “Muja Balit ( mulek kaya) ”  dan “Perang Topat”
Umat Budha di dusun baru murmas, Desa Bentek, Kecamatan Gangga, Kabupaten Lombok Utara (KLU), mempunyai tradisi ritual yang diberi nama “muja balit” atau pemujaan terhadap leluhur. Ritual ini biasanya digelar pada musim panas( biasanya jatuh pada bulan delapan) yang dirangkaikan dengan ritual mulek kaya atau syukuran atas hasil tanaman sawah dan kebun yang diperoleh. Proses ritual tersebut berlangsung selama empat hari, mulai dari membersihkan tempat pemujaan, turun gong atau menurunkan gamelan sampai pada kegiatan perang topat.
Suara gamelan bertalu-talu mengiringi prosesi ritual muja balit di lokasi pemujaan warga dusun baru murmas. Sejumlah orang tua, kaula muda   menarikan tarian Rejang yang diringi dengan tabuhan rejang) . Tarian ini konon dipersembahkan untuk menghibur para leluhur. Dalam upacara pemujaan juga dilangsungkan pembayaran nazar ( nyaur sesangi)  oleh warga atas janji yang pernah diucapkan beberapa waktu lalu.
Hal yang paling menonjol  dari umat Buddha di Lombok Utara adalah mengenai berlakunya Hukum Kamma. Hal ini terbukti pada semboyan bersikap dan bertingkah laku yang memang sudah memasyarakat sejak dahulu di kalangan masyarakat penganut agama Buddha di Lombok Utara: “Lenge peaq diq gaweq man lenge peaq diq dait. Bagus peaq diq gaweq man bagus peaq dik dait” artinya “jelek yang kamu lakukan pasti jelek yang akan kamu jumpai. Bagus yang kamu lakukan pasti bagus yang akan kamu jumpai”.
Semua ini telah menjadi bagian dari cara hidup yang secara tersirat mengandung budaya puja yang yang sejak dahulu tertanam pada nenek moyang kuhususunya di orang pak penasan ,kalipucak baru satan ( nama web adat pemujaan baru) dan masyarakat budhis k.l.u. Tidak diragukan lagi, semua itu adalah warisan para leluhur yang tidak mungkin dihapus dan dilupakan. Akar budaya dan tradisi tersebut telah tertancap sangat dalam dan kuat dihati sanubari  masyarakat Buddhis di Lombok Utara. Hal itu nampak jelas bagaimana masyarakat menyambut dan melaksanakan tradisi Muja dengan begitu antusias. Upacara yang disambut dengan meriah, bergotong royong sebagai ikatan kehidupan bertetangga yang sosialis sehingga tercipta rasa kekeluargaan, kebersamaan, dan persatuan yang dapat menjalin keharmonisan dalam hidup umat manusia . Jadi, tradisi umat  Buddha di Lombok Utara tidak terlalu menyimpang dengan Buddha Dhamma. Suatu tradisi yang bernilai positif hendaknya dilestarikan dan jangan sampai dilupakan. Dan mungkin itu sekilas goresan tinta karya nakpemaru mengenai tradisi muja baru ,dan mungkin jika ada kekurangan dalam penyampain informasinya bisa ditanyakan kembali pada  para ahli sejarahnya yang ada didusun baru murmas . dan artikel ini saya buat berdasarkan informasi yang dituturkan langsung oleh ayah saya ,yang sekarang ini masih menjabat sebagai  mangku adat ( mangku pesalin ) dan semoga artikel ini dapat bermanfaat bagi rekan rekan yang masih mencintai tradisi adat dan  budhaya nenek moyang kita khususnya bagi masyarakat baru murmas ,desa bentek kecamatan gangga , kabupaten Lombok utara. Dan informasi tentang tadisi muja ini sengaja saya muat dengan tujuan supaya para pembaca menjadi lebih tahu tentang tradisi muja yang ada di Dusun Baru Murmas Desa Bentek Kecamatan gangga . dan semoga dengan informasi yang saya muat diblog saya dapat menyadarkan anda betapa pentingnya warisan budhaya yang diberikan oleh para leluhur kita .


............Dan salam damai dari goresan tinta nak pemaru buat sahabatku semua....
.................thanks you.............

      ……goresan tinta karya nakpemaru…………..

WISUDA KE VI dan DIES NATALIS KE X STIAB JINARAKHITA BANDAR LAMPUNG TAHUN 2014



WISUDA KE-VI  DAN DIES NATALIS KE X SEKOLAH TINGGI ILMU AGAMA BUDDHA (STIAB) JINARAKKHITA

Jumat 17/09/2014 Sekolah Tinggi Ilmu Agam Buddha (STIAB) Jinarakkhita mewisuda 11 wisudawan Program Studi Dharma Acarya yang siap terjun langsung ke masyarakat sebagai tenaga pendidik yang profesional. Acara wisuda ke VI  dan dies natalis Ke X Sekolah Tinggi Ilmu Agama Buddha (STIAB) Jinarakkhita dihadiri oleh Dirjen Buddha Bapak Drs. Dasikin.
Orasi ilmiah pada wisuda kali ini dibawakan oleh Prof Dr IBG Yudha Triguna MS. dengan tema “Paradigma Pendidikan dan Pengembangan Pendidikan Tinggi Berbasis Agama.” Pesan inti beliau agar Sekolah Tinggi Ilmu Agam Buddha (STIAB) Jinarakkhita mampu menjadi media pencerdasan generasi muda Buddha dan membina moral serta budi pekerti yang unggul.
Hal ini sejalan dengan sambutan ketua Ketua Yayasan Buddhayana Vidyalaya Y.A Suhu Nyana Maitri Mahastavira, dan  Biksu Wandi Bhadra Guna, M.Si,. M.Pd.B Selaku Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Agama Buddha (STIAB) Jinarakkhita. Wisudawan dituntut mandiri, intelektual, memiliki keterampilan dan kompetensi yang layaknya sebagai cendekiawan untuk menghadapi tantangan secara profesional, yang berbudaya dan bermoral sehinga mampu menjawab tantangan di lingkungan masyarakat.
Meriahnya wisuda ke-VI  dan dies Natalis Ke X Sekolah Tinggi Ilmu Agama Buddha (STIAB) Jinarakkhita dihadiri oleh artis Buddhis  yaitu Santo dan Lina, selain itupula ditampilkannya tarian sembah, pembacaan syair dharmmapadha, tari khema, dan karawitan dari sangar seni Sekolah Tinggi Ilmu Agama Buddha (STIAB) Jinarakkhita.
Sekolah Tinggi Ilmu Sekolah Tinggi Ilmu Agama Buddha (STIAB) Jinarakkhita. Secara kronologis mengalami liku-liku perjuangan hingga berkwalitas serta terkreditasi B. Fasilitas kampus cukup memadai karena sudah dilengkapi dengan sarana yang terus berkembang dan mendukung mahasiswa dan mahasiswi seperti, Ruang Ketua, Ruang Kaprodi, Ruang BAK, Ruang Akademik, Ruang Dosen, Perpustakaan, Lab. Komputer,, Micro Teacing, Ruang kuliah, Ruang Rapat, Bakti sala, Ruang BEM, dll.
STIAB Jinarakkhita terus berupaya untuk segera memiliki kampus sendiri, atas dukungan dari semua pihak sehingga Yayasan Buddhayana Vidyalaya dapat memiliki tanah seluas ± 14.343 M2 di Jl. Raya Suban, Kelurahan Pidada – Kecamatan Panjang yang dihibahkan oleh seorang donatur (Sutomo), untuk dijadikan sebagai Kampus Utama STIAB Jinarakkhita. Dan pada tahun 2014 gedung baru hampir selesai.

kegiatan civitas akademika STIAB JINARAKHITA BANDAR LAMPUNG


Kegiatan civitas akademika mahasiswa stiab jinarakhita

sekolah tinggi ilmu agama budha adalah salah satu perguruan tinggi ilmu agama budha yang didirikan oleh  y.m. suhu nyana maitri mahastavira  yang berada di provinsi lampung letaknya di jln. laksmana mahalayati  bandar lampung . kegiatan belajar disekolah tinggi ilmu agama budha ini berjalan dengan lancar sesuai dengan jadwal yang ditetapkan yaitu mulai dari hari senin sampai hari sabtu. dari sekian proses belajar mengajar yang ada yang dimuali dari hari senin sampai jumat ,ada kegiatan lain yang sangat relevansekali yang dilakukan oleh mahsiswa stiab jinarakhita yaitu kegiatan civitas akademika  ,dimana kegiatan civitas ini dilaksanakan pada hari jumat pukul ,13.00 -15.00 wib. kemudian kegiatan civitas ini dirangkul dengan acara kebaktian /sembahyang ,kegiatan diskusi bersama , belajar parita ,dll.
kemudian didalam kegiatan sembahyang civitas ini , mahasiswa tidak hanya menggunakan satu tradisi saja tetapi menggunakan tiga tradisi ,dimana didalam setiap ada sembahyang yang menyangkut tiga terdisi ini dibuat jadwal tersendiri oleh bidang kerohanian ,yang sekarang diketua oleh bhante badra prasna ,dan bendaharanya yaitu samaneri sari .
Dan adapun sanksi bila mahasiswa yang tidak mengikuti civitas ini yaitu berupa yuran denda senilai Rp.2000.00 ,kemudian jika berturut turut ,tidak mengikuti kegiatan ini sanksinya yaitu berupa teguran yang disampaikan oleh ketua kaprodi stiab jinarakhita.dan mungkin cuma itu informasi mengenai kegiatan civitas akademika sekolah tinggi ilmu agama budha jinarakhita bandar lampung ,dan jika ada penulisan kata atau ada kata –kata saya yang salah saya meminta maaf yang sebesar besarnya karena tidak ada manusia yang sempurna ,maka dari itu dengan ketidakpurnaan kita sebagai manusia marilah kita lengkapi kekurangan kita dengan kita bersama-sama untuk selalu belajar dan berusaha untuk memperaktikanya dalam kehidupan sehari- hari,dan semoga bermanfaat sekian terima kasih . sabhe sattha bhvantu sukhitata semoga semua mahluk berbahagia
Sadhu,sadhu, sadhu

                                                                                                                      
                                                                                                                      
  
                                      

tahun baru imlek



TAHUN BARU IMLEK

Satu kata yang sering diucapkan oleh banyak orang. Tidak hanya orang yang merupakan keturunan China tetapi sudah dikenal luas oleh seluruh masyarakat Indonesia. Nah berikut sedikit ulasan mengenai hari raya Imlek atau sering juga dikenal dengan Tahun Baru China.
Berbeda dengan tahun Internasional yaitu pada akhir bulan ke-12 yaitu bulan desember tahun baru China dilaksanakan sesuai dengan penanggalan bulan atau sering disebut penanggalan lunar. Biasanya tahun baru akan tiba pada bulan januari atau februari penanggalan internasional.
Tahun Baru Imlek merupakan perayaan terpenting orang Tionghoa. Perayaan tahun baru imlek dimulai di hari pertama bulan pertama ((Tionghoa); pinyin: zhēng yuè) di penanggalan Tionghoa dan berakhir dengan Cap Go Meh 十五冥 元宵 di tanggal kelima belas (pada saat bulan purnama). Malam tahun baru imlek dikenal sebagai Chúxī yang berarti "malam pergantian tahun".
Di Tiongkok, adat dan tradisi wilayah yang berkaitan dengan perayaan Tahun Baru Imlek sangat beragam. Namun, kesemuanya banyak berbagi tema umum seperti perjamuan makan malam pada malam Tahun Baru, serta penyulutan kembang api. Meskipun penanggalan Imlek secara tradisional tidak menggunakan nomor tahun malar, penanggalan Tionghoa di luar Tiongkok seringkali dinomori dari pemerintahan Huangdi. Setidaknya sekarang ada tiga tahun berangka 1 yang digunakan oleh berbagai ahli, sehingga pada tahun 2009 masehi "Tahun Tionghoa" dapat jadi tahun 4707, 4706, atau 4646.
Jika pada tahun 2009 masehi "Tahun Tionghoa" dapat jadi tahun 4707, 4706, atau 4646 maka angka untuk “tahun rionghoa” pada tahun 2015 adalah 4713, 4712 atau 4652.
Dirayakan di daerah dengan populasi suku Tionghoa, Tahun Baru Imlek dianggap sebagai hari libur besar untuk orang Tionghoa dan memiliki pengaruh pada perayaan tahun baru di tetangga geografis Tiongkok, serta budaya yang dengannya orang Tionghoa berinteraksi meluas. Ini termasuk Korea, Mongolia, Nepal, Bhutan, Vietnam, dan Jepang (sebelum 1873). Di Daratan Tiongkok, Hong Kong, Makau, Taiwan, Singapura, Malaysia, Filipina, Thailand, dan negara-negara lain atau daerah dengan populasi suku Han yang signifikan, Tahun Baru Imlek juga dirayakan, dan pada berbagai derajat, telah menjadi bagian dari budaya tradisional dari negara-negara tersebut.
Nah karena sekarang penduduk Indonesia banyak juga yang merupakan masyarakat keturunan China meskipun bukan mayoritas maka pantaslah hari raya imlek dirayakan di Indonesia.
Kalender suryacandra Tionghoa menentukan tanggal Tahun Baru Imlek. Kalender tersebut juga digunakan di negara-negara yang telah mengangkat atau telah dipengaruhi oleh budaya Han (terutama di Korea, Jepang, dan Vietnam) dan mungkin memiliki asal yang serupa dengan perayaan Tahun Baru di luar Asia Timur (seperti Iran, dan pada zaman dahulu kala, daratan Bulgar).
Dalam kalender Gregorian, Tahun Baru Imlek jatuh pada tanggal yang berbeda setiap tahunnya, antara tanggal 21 Januari sampai 20 Februari. Dalam kalender Tionghoa, titik balik mentari musim dingin harus terjadi di bulan 11, yang berarti Tahun Baru Imlek biasanya jatuh pada bulan baru kedua setelah titik balik mentari musim dingin (dan kadang yang ketiga jika pada tahun itu ada bulan kabisat). Di budaya tradisional di Tiongkok, lichun adalah waktu solar yang menandai dimulainya musim semi, yang terjadi sekitar 4 Februari.
Sebelum Dinasti Qin, tanggal perayaan permulaan sesuatu tahun masih belum jelas. Ada kemungkinan bahwa awal tahun bermula pada bulan 1 semasa Dinasti Xia, bulan 12 semasa Dinasti Shang, dan bulan 11 semasa Dinasti Zhou di China. Bulan kabisat yang dipakai untuk memastikan kalendar Tionghoa sejalan dengan edaran mengelilingi matahari, selalu ditambah setelah bulan 12 sejak Dinasti Shang (menurut catatan tulang ramalan) dan Zhou (menurut Sima Qian). Kaisar pertama China Qin Shi Huang menukar dan menetapkan bahwa tahun tionghoa berawal di bulan 10 pada 221 SM.
Pada 104 SM, Kaisar Wu yang memerintah sewaktu Dinasti Han menetapkan bulan 1 sebagai awal tahun sampai sekarang. Tahun pertama Tahun Baru Imlek/Yinli dihitung berdasarkan tahun pertama kelahiran Kongfuzi (Confucius), hal ini dilakukan oleh Kaisar Han Wudi sebagai penghormatan kepada Kongfuzi yang telah mencanangkan agar menggunakan sistem penanggalan Dinasti Xia dimana Tahun Baru dimulai pada tanggal 1 bulan kesatu. Oleh sebab itu sistem penanggalan ini dikenal pula dengan Kongzili.
Menurut legenda, dahulu kala, Nián () adalah seekor raksasa pemakan manusia dari pegunungan (atau dalam ragam hikayat lain, dari bawah laut), yang muncul di akhir musim dingin untuk memakan hasil panen, ternak dan bahkan penduduk desa. Untuk melindungi diri merka, para penduduk menaruh makanan di depan pintu mereka pada awal tahun. DIpercaya bahwa melakukan hal itu Nian akan memakan makanan yang telah mereka siapkan dan tidak akan menyerang orang atau mencuri ternak dan hasil Panen.
Pada suatu waktu, penduduk melihat bahwa Nian lari ketakutan setelah bertemu dengan seorang anak kecil yang mengenakan pakaian berwarna merah. Penduduk kemudian percaya bahwa Nian takut akan warna merah, sehingga setiap kali tahun baru akan datang, para penduduk akan menggantungkan lentera dan gulungan kertas merah di jendela dan pintu. Mereka juga menggunakan kembang api untuk menakuti Nian. Adat-adat pengurisan Nian ini kemudian berkembang menjadi perayaan Tahun Baru. Guò nián (Hanzi tradisional: 過年; (Tionghoa)), yang berarti "menyambut tahun baru", secara harafiah berarti "mengusir Nian".
Sejak saat itu, Nian tidak pernah datang kembali ke desa. Nian pada akhirnya ditangkap oleh Hongjun Laozu, seorang Pendeta Tao dan Nian kemudian menjadi kendaraan Honjun Laozu.