TRADISI MUJA YANG ADA DIDUSUN BARU
MURMAS
Pulau Lombok selain terkenal dengan wisata yang indah dan menawan, masih
banyak hal lain yang belum diketahui mengenai pulau yang satu ini, khususnya
mengenai tradisi umat Buddha di Lombok Utara. Tradisi tersebut dikenal dengan
nama ‘Muja’. Tradisi ini diadakan dua kali dalam setahun yang terdiri dari “nunas
kaya” dan “mulek kaya”
Nunas kaya berasal dari dua kata yaitu ‘nunas’ dan ‘kaya’. Nunas( nunas mel-bao) berarti mengharapkan, berdoa, memohon. Sedangkan kaya berarti rezeki, keberuntungan, Jadi, nunas kaya berarti memohon
supaya diberikan suatu kesehatan ,kedamaian ,kebahagiaan dan keberuntungan. Tradisi ini biasanya dilakukan
ketika padi mulai berbiji. Inti
atau makna yang terkandung dalam upacara nunas kaya ini adalah memberikan
persembahan kepada leluhur dengan harapan supaya padi di sawah berisi padat dan
banyak supaya masyarakat dapat hidup
sejahtera .
Mulek kaya berasal dari dua kata yaitu ‘mulek’ dan ‘kaya’. Mulek berarti
mengembalikan/ungkapan syukur. Mulek kaya adalah upacara pemberian persembahan
kepada leluhur sebagai ucapan terimakasih atas perolehan panen yang berhasil, sehingga apapun yang diperoleh dari hasil panen
dipersembahkan kepada leluhur .
Upacara Muja dipimpin oleh belian (orang yang memberikan
persembahan) dan pemangku (pemimpin upacara persembahan) dan tokoh pemangku ini terdiri dari tiga tokoh dan masing
masing mempunyai nama dan tugas masing
masing dan nama dari masing-masing pemangku ini yaitu:
1.
Mangku penghulu ,dimana mangku penghulu
( jari lek julu) artinya mangku pengulu ini brtugas menjadi yang terdepan dan
menghendel jalannya upacara muja tersebut
2.
Mangku pesalin , dimana mangku
pesalin ,kata mangku berasal dari bahasa indonesia dan lebih
seknipikan dengan kata pemangku jadi
secara epistemology kata pemangku
artinya orang yang memangku,mengelola sedangkan pesalin yang
berasal dari bahasa sasak artinya mengganti ,jadi secara epistemologinya mangku
pesalin adalah orang yang memangku atau mengelola dibagian persalinan yang berkenaan
dengan tata hias leluhur
3.
Mangku tunang tekang ,kata tunang
tekang berasal dari bahasa sasak ,kata tunang artinya menurunkan , sedangkan
tekang artinya menaikan jadi mangku tunang tekang adalah orang yang memangku
dan mengelola dibagian sesajen yang diberikan kepada leluhur .
Dari ketiga pemangku tersebut jika memang dari salah satu
dari mereka yang setidaknya tidak mampu lagi menjalankan tugasnya ( sudah tua )
maka masyarakat pepujan orong pak penasan, kalipucak baru satan ,ini mengadakan
sangkep ( musyawarah) untuk memilih pemangku baru ,dan dalam pemilihan mangku
ini dipilih berdasarkan garis keturunan leluhur yang sekiranya memiliki
hubungan kekelurgaan dari mangku yang lama.
. Upacara
persembahan selalu dimulai dengan doa mulai hitungan satu sampai tujuh.
Kemudian menyebutkan Betara Guru, Betara Sakti, Betara Jeneng, Idodari
Sakti, Idodari Jeneng. Bunyi doanya adalah sebagai berikut:
“Sak dua telu empat lima enem pituq, tabek kula Sang Hyang Sri, aturang
kula tibaq Sang Hyang Pepujan, tibaq Sang Hyang Tetungguran, tibaq Sang Hyang
Kembulan da epeng kula. Aturang kula tibaq Betara Guru, Betara Sakti, Betara
Jeneng, Idodari Sakti, Idodari Jeneng; jeriji sepulu, lekoq goro buaq
ngelotok, da epeng kula. Buat pelih sala qatus ura arep ragan pemban kula nunas
ampura, kula nunas jeneng, kula nunas serminang, kula nunas rahayu reseki
berkat da epeng kula.
Artinya:
“Satu dua tiga empat
lima enam tujuh, hormat kepada Sang Hyang Sri, persembahkanlah persembahan
hamba kepada Sang Hyang Pepujan (Yang Patut Untuk Dipuja), Sang Hyang
Tetunguran (Yang Menjadi Pangkal Utama), Sang Hyang Kembulan (Modal Utama),
dialah milik hamba. Persembahkanlah persembahan hamba kepada Betara Guru (Yang
Menjadi Guru), Betara Sakti (Yang Memilki Kehebatan Dan Kekuatan), Betara
Jeneng (Yang Melindungi), Idodari Sakti (Yang Memiliki Kehebatan dan Kekuatan),
Idodari Jeneng (Yang Melindungi); jari sepuluh, sirih yang telah layu dan
pinang yang telah kering, dialah milik hamba. Bila ada kesalahan dalam
upacara persembahan ini, hamba mohon maaf sebesar-besarnya, hamba mohon
perlindungan, hamba mohon dilihat, hamba mohon kemuliaan, hamba mohon rezeki
yang ada berkahnya, dialah milik hamba.
Menurut umat Buddha di Lombok Utara
, doa ini
identik dengan Tisaraṇa dan hitungan
satu sampai tujuh disingkronkan dengan Tujuh Faktor Penerangan Batin
yaitu Sati, Dhammāvicayo, viriya, pīti, passadhi, samādhi
dan Upekkha.
Ritual “Muja
Balit ( mulek kaya) ” dan
“Perang Topat”
Umat Budha di dusun baru murmas, Desa Bentek, Kecamatan
Gangga, Kabupaten Lombok Utara (KLU), mempunyai tradisi ritual yang diberi nama
“muja balit” atau pemujaan terhadap leluhur. Ritual ini biasanya
digelar pada musim panas( biasanya jatuh pada bulan delapan) yang
dirangkaikan dengan ritual mulek kaya atau syukuran atas hasil tanaman sawah
dan kebun yang diperoleh. Proses ritual tersebut berlangsung selama empat hari,
mulai dari membersihkan tempat pemujaan, turun gong atau menurunkan gamelan
sampai pada kegiatan perang topat.
Suara gamelan bertalu-talu mengiringi prosesi ritual muja balit di lokasi
pemujaan warga dusun baru murmas. Sejumlah orang tua, kaula muda menarikan tarian Rejang
yang diringi dengan tabuhan rejang) . Tarian ini konon dipersembahkan untuk menghibur para
leluhur. Dalam upacara pemujaan juga dilangsungkan
pembayaran nazar ( nyaur sesangi) oleh warga atas janji yang pernah diucapkan
beberapa waktu lalu.
Hal yang paling menonjol dari umat Buddha di Lombok Utara adalah
mengenai berlakunya Hukum Kamma. Hal ini terbukti pada semboyan bersikap dan
bertingkah laku yang memang sudah memasyarakat sejak dahulu di kalangan
masyarakat penganut agama Buddha di Lombok Utara: “Lenge peaq diq gaweq man
lenge peaq diq dait. Bagus peaq diq gaweq man bagus peaq dik dait” artinya
“jelek yang kamu lakukan pasti jelek yang akan kamu jumpai. Bagus yang kamu
lakukan pasti bagus yang akan kamu jumpai”.
Semua ini telah menjadi bagian dari cara hidup yang secara tersirat
mengandung budaya puja yang yang sejak dahulu tertanam
pada nenek moyang kuhususunya di orang
pak penasan ,kalipucak baru satan
( nama web adat pemujaan baru) dan
masyarakat budhis k.l.u. Tidak diragukan lagi, semua itu adalah
warisan para leluhur yang tidak mungkin dihapus dan dilupakan. Akar budaya dan
tradisi tersebut telah tertancap sangat dalam dan kuat dihati sanubari masyarakat Buddhis
di Lombok Utara. Hal itu nampak jelas bagaimana masyarakat menyambut dan
melaksanakan tradisi Muja dengan begitu antusias. Upacara yang disambut dengan
meriah, bergotong royong sebagai ikatan kehidupan bertetangga yang sosialis
sehingga tercipta rasa kekeluargaan, kebersamaan, dan persatuan yang dapat menjalin keharmonisan dalam hidup umat manusia . Jadi, tradisi
umat Buddha di Lombok Utara tidak terlalu menyimpang dengan Buddha
Dhamma. Suatu tradisi yang bernilai positif hendaknya dilestarikan dan
jangan sampai dilupakan. Dan mungkin itu sekilas goresan
tinta karya nakpemaru mengenai tradisi muja baru ,dan mungkin jika ada
kekurangan dalam penyampain informasinya bisa ditanyakan kembali pada para ahli sejarahnya yang ada didusun baru
murmas . dan artikel ini saya buat berdasarkan
informasi yang dituturkan langsung oleh ayah saya ,yang sekarang ini masih menjabat
sebagai mangku adat ( mangku pesalin )
dan semoga artikel ini dapat bermanfaat bagi rekan rekan yang masih mencintai
tradisi adat dan budhaya nenek moyang
kita khususnya bagi masyarakat baru murmas ,desa bentek kecamatan gangga ,
kabupaten Lombok utara. Dan informasi tentang tadisi muja ini sengaja saya muat dengan tujuan supaya para pembaca menjadi lebih tahu tentang tradisi muja yang ada di Dusun Baru Murmas Desa Bentek Kecamatan gangga . dan semoga dengan informasi yang saya muat diblog saya dapat menyadarkan anda betapa pentingnya warisan budhaya yang diberikan oleh para leluhur kita .
............Dan salam damai dari goresan tinta nak pemaru buat sahabatku semua....
.................thanks you.............
……goresan tinta karya nakpemaru…………..